Kamis, 24 November 2011

USIA BERKHITAN

Usia Berapa Sebaiknya Khitan?

Sebenarnya tidak ada batasan umur berapa yag tepat untuk di khitan. dari umur 1 bulan sampai dewasa pun bisa di khitan hanya saja bila pada anak kecil yang belum mengerti di khitan sangat repot perawatan luka sesudah khitannya. jadi sebaiknya anak dikhitan ketika kenaikan kelas 3-5 SD, dengan harapan anak usia tersebut lebih mudah diberi pengertian dan belum terlalu besar usianya, karena bila sudah terlalu besar usia anaknya khawatir menjadi malu bila di khitan.

Secara medis, tidak ada batasan usia berapa harus berkhitan. Di Indonesia usia khitan lebih dipengaruhi oleh adat istiadat setempat. Di Arab Saudi anak dikhitan pada usia 3-7 tahun, di Mesir antara 5-6 tahun, di India antara 5-9 tahun, di Iran biasanya anak akan dikhitan saat usia 4 tahun.

Di Indonesia usia maupun tradisi khitan lebih dipengaruhi oleh adat istiadat masing-masing daerah, misalkan di Jawa lazimnya anak dikhitan pada usia sekitar 15 tahun, di Sunda biasanya usia 4tahun, bahkan di Maumere dan Flores lebih sering dijumpai khitan pada usia 21 tahun.

Beberapa dokter yang lain berpendapat khitan sebaiknya dilakukan saat anak berusia 1-12 tahun. Sebab, pada usia tersebut, anak umumnya belum ereksi. “Sehingga, risiko perdarahannya juga minimal.

Menurut kami sebaiknya anda dikhitan pada umur diantara 4 – 11 tahun dengan maksud sudah tidak mengompol dan bisa kencing sendiri tapi belum terlalu tua supaya belum ereksi.

Bagaimana jika terlanjur dewasa baru berkhitan?.

Banyak pria dewasa yang khitan dulu sebelum menikah. Jika sudah dewasa, dikhawatirkan ada pendarahan pada jahitan saat ereksi, untuk itu sebaiknya segera kencing pada malam hari (pukul 00.00) dan dini hari (pukul 04.00.

Jika tidak, kandung kencing akan penuh pagi harinya. Kondisi begitu bisa mengakibatkan ereksi. “Jika ereksi, ada risiko perdarahan pada bekas jahitan,” tentu saja juga disertai rasa nyeri dan tidak nyaman.

(Sumber : www.unicefcorporation.com)

Sabtu, 04 September 2010

Fimosis, Suatu Kondisi Yang Perlu Untuk Disunat

Fimosis adalah kondisi preputium (kulup penis) tidak bisa ditarik kedalam sehingga melewati glans penis. Kondisi fimosis bsa bertahan sampai seorang menjadi dewasa atau terjadi suatu jaringan ikat pada bagian preputium.
Parafimosis adalah kondisi terjadinya jeratan pada glans penis akibat preputium terjadi setelah preputium ditarik ke belakang daan tidak bisa kembali pada posisi semula. Merupakan kondisi emergensi yang bisa terjadi pada lelaki dengan fimosis dan yang tidak disunat.
Pada umumnya bayi yang lahir mengalami kondisi fimosis sampai menuju akil baligh, hal ini tidak perlu dikhawatirkan orang tua.Kondisi ini disebut fimosis fisiologis atau normal, namun bisa menjadi kondisi yang patologis (abnormal) dan perlu penanganan medis. Beberapa kondisi patologis tersebut diantaranya parafimosis, balanitis dan retensi urin. Sedangkan pada tingkat lebih lanjut, menurut beberapa penelitian fimosis beresiko untuk terjadiya retensi urin dan kanker penis.
Pada beberapa kondisi fimosis bisa dijumpai pada orang dewasa yang tidak disunat dan biasanya banyak masalah yang terjadi seperti nyeri saat ereksi, hematuria (kencing bercampur darah), infeksi saluran kencing berulang, nyeri di preputium, ataupun pancaran kencing melemah. Kaitan antara fimosis dan infeksi saluran kencing sangat erat dan saling mempengaruhi, misalnya balanitis/balanopostitis (infeksi kronis di preputium) menyebabkan fimosis dan berkomplikasi menimbulkan infeksi saluran kencing.

Gambar A: fimosis fisiologis, dimana pada umumnya anak-anak kulit kulup tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka glans penis. Gambar B : fimosis patologis, yaitu fimosis yang mengalami komplikasi/kelainan oleh karena jaringan ikat, sehingga kulit kulup tidak bisa ditarik ke belakang sama sekali dan berpotensi menimbulkan komplikasi: parafimosis ,nyeri ereksi, nyeri saat intercourse pada kondisi ini.)
Oleh karena itu para peneliti masalah ini mewajibkan utuk dlakukan tindakan sirkumsisi/sunat ( Robert S. Van Howe). Bagi yang tidak mau dilakukan sunat bisa dilakukan pembebasan kulup dengan teknik dorsal slit atau ventral slit, yaitu membelah kulit kulup dan menjahitnya.
Secara medis sirkumsisi/khitan/sunat sangat besar pengaruhnya dalam menjaga kesehatan terutama pada laki-laki untuk mencegah dan mengobati terjadinya fimosis dan komplikas yang timbul akibat fimosis. Oleh karena itu tak perlu lagi ragu untuk melakukan sunat/khitan pada dokter yang berpengalaman di bidangnya.

Jumat, 18 Desember 2009

Smart Klamp: Teknik Sunat di Rumah Sunat Mumtaz Surabaya


Smart Klamp adalah cara terbaru sunat. Alatnya terdiri dari dua komponen, yakni tabung dan klamp penjepit yang terbuat dari bahan ringan dan kuat. Pemasangan alat sangat gampang, tidak menimbulkan perdarahan dan tanpa jahitan. Perawatan usai sunat pun sangat gampang, tidak memerlukan perawatan khusus seperti metode lain.
Teknik ini cocok bagi anak-anak dengan kelainan, seperti hemofilia, autis, bayi dengan fimosis, infeksi (radang), dan hiperaktif. Dengan cara sunat ini, anak bisa langsung bermain tanpa khawatir akan berdarah atau terjadi komplikasi.
Sekali Pakai
Alat ini dibuat sedemikian rupa dengan tingkat persisi tinggi, sehingga saat dikunci, kekuatan rekat tabung dan kunci akan terbagi secara merata pada seluruh kulit. Dengan demikian, risiko terlepas sangat kecil, meski melakukan aktivitas berat sekalipun. Uji kekuatan teknik ini dilakukan dengan menahan beban. Hasilnya, alat dalam teknik ini mampu menahan beban seberat 1,5 kg.
Alat Smart Klamp terdiri atas beberapa ukuran, mulai dari nomor 10, 13, 16, dan 21. Untuk bayi, alat yang dipakai nomor 10, sedangkan orang dewasa nomor 21
Alat ini terbuat dari dua jenis bahan kunci klamp, yakni nilon dan polikarbonat yang dikemas steril dan sekali pakai. Tentu saja lebih aman dan bebas dari penularan penyakit dan infeksi. Smart Klamp memberikan perlindungan luka dengan sistem tertutup. Luka sayatan terkunci rapat, meminimalir kemungkinkan masuknya mikroorganisme patogen.

Cara Kerja
Teknik Smart Klamp sangat mudah dan cepat. Setelah diberi anestesi lokal, secara hati-hati preputium dibersihkan dan dibebaskan dari perlengketan dengan gland penis.
Setelah memilih ukuran tabung Smart Klamp yang cocok dengan gland penis,batas kulit preputium yang akan dibuang ditandai. Tabung Smart Klamp dimasukkan ke dalam preputium hingga batas corona gland penis. Lalu, klamp pengunci dimasukkan sesuai arah tabung dan diputar 90 derajat, hingga posisi Smart Klamp siap terkunci. Lalu dilakukan pemotongan preputium sesuai dengan cetakan dari alat Smart Klamp. Proses sunat selesai sekitar 5-10 menit, cepat bukan?!


Alat Smart Klamp sangat ringan dan tabungnya tidak menghalangi pengeluaran air seni. Setelah lima hari, Smart Klamp dilepas dokter atau perawat dengan teknik yang sangat mudah. Waktu yang dibutuhkan pun hanya beberapa detik.

Perawatan Usai Khitan

Setelah dikhitan, anak dianjurkan istirahat untuk menghindari terjadinya bengkak (edema). Tiga jam sesudahnya, anak diperbolehkan beraktivitas, seperti bermain, sekolah, mandi, bepergian.
Perawatan luka dilakukan dengan membersihkan tabung Smart Klamp dengan air setiap habis buang air kecil, khususnya sisi dalam, agar gland penis bebas dari sisa air kencing. Pada saat mandi, siram dan bersihkan seluruh tabung, kemudian keringkan dengan handuk agar tidak lembab. Jika memungkinkan, gunakan air mandi yang dicampur dengan antiseptik cair untuk membantu membersihkan Smart Klamp dari mikroba.
Pada hari kelima, 3 jam sebelum Smart Klamp dilepas, dilakukan pembukaan kunci Smart Klamp dengan cara menarik posisi kunci ke arah samping luar. Setelah dibuka, lakukan pemberian baby oil atau minyak kelapa disekitar tabung dengan cara meneteskan secukupnya setiap ½ jam. Kulit luka akan melunak, sehingga alat mudah dilepaskan.